Home Tech Gandung Adi, Berbagi Banyak Hal via Media Digital

Gandung Adi, Berbagi Banyak Hal via Media Digital

gandung-adi

Seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi pun tidak terelakkan. Dalam banyak hal, sungguh sebuah kenyataan kalau keberadaannya jadi memudahkan. Dulu, banyak kegiatan harus dilakukan secara manual. Tidak hanya membutuhkan lebih banyak biaya, tetapi juga memakan waktu yang cenderung lebih lama. Makin ke sini, kehadirannya makin diminati. Karena melalui media digital, banyak hal bisa dibagi. Salah satunya adalah yang dilakukan sosok inspiratif minggu ini, Gandung Adi Wibowo.

Sebagai seorang digital storyteller, apa yang dilakukan pria yang juga berprofesi sebagai fotografer, videografer, dan maintenance konten media sosial ini tentu saja lekat dengan dunia digital. Oleh karena itu dalam perbincangan kali ini, lulusan Magister Komunikasi Universitas Dr. Soetomo ini turut membagikan pemikirannya tentang peranan media digital, terutama dalam upaya pengembangan karier dan skill. Nah, ini bisa jadi kuncian banget buat kamu yang mau berkarya lewat media sosial. Yuk, simak obrolan seru People of the Week kali ini bersama Gandung Adi.

1. Bagaimana awalnya bisa tertarik dengan media digital?

Tertarik dengan media digital sebenarnya sejak SMK. Dulu pernah memasukkan FAT virus ke komputer sekolah. Untungnya bisa dihapus. Digital fotografi pun demikian. Saya mulai tertarik sejak SMK. Waktu itu, guru fotografi sempat bilang kalau foto hasil jepretan saya adalah hasil dari gambar Google. Akhirnya saya bisa membuktikan kemudian kalau itu memang foto saya, bukan ambil dari Google.

2. Menurut kamu, seberapa penting peran media digital saat ini untuk pengembangan karier dan skill?

Media digital saat ini sangat berpengaruh dalam lini hidup manusia. Hampir semua ilmu pengetahuan bisa dibagikan dan dipelajari di sana. Kenapa kok saya bilang hampir semua? Karena saking bebasnya orang berbagi dan belajar. Jadi, kita sebagai pengguna harus mahir memilah informasi yang kita dapat.

Media sosial juga bisa dimanfaatkan sebagai portofolio pribadi. Contohnya, si A mengerjakan proyek foto. Kemudian, dia mengunggah hasil fotonya di media sosial pribadinya atau brand-nya. Orang juga bisa menilai kita dari bagaimana media sosial  kita. Banyak sekali HRD perusahaan yang sedang merekrut karyawan akan menengok media sosial calon karyawannya. Parameternya bisa dari status atau postingan foto yang dibagikan. Dari situ akan terlihat apakah si calon karyawan termasuk tipe orang yang banyak mengeluh atau justru memiliki pribadi yang positif.

3. Apa yang harus dipelajari seseorang ketika hendak memanfaatkan media sosial sebagai media pengembangan karier dan skill?

Hal pertama dan yang terpenting adalah orang tersebut harus menguatkan literasi terlebih dahulu. Ini berlaku untuk semua, terutama untuk para generasi milenial. Dengan adanya bekal literasi yang cukup, diharapkan seseorang lebih bisa mengendalikan diri dan tidak mudah emosional dalam bermedia sosial.

4. Platform media sosial apa yang menurut kamu paling cocok digunakan untuk membantu pengembangan karier dan skill?

Platform-nya beragam ya, masing-masing ada keunggulannya sendiri. Contohnya, website bisa lebih unggul untuk mendapatkan trust. Sementara itu, Facebook dan Instagram bisa menjadi paket standar sebuah brand untuk memulai digital marketing.

Ada juga fenomena baru di digital marketing dengan menggunakan TikTok sebagai platform untuk meningkatkan awareness. Kalau dilihat data yang dibeberkan Angga Anugrah Putra selaku Head of User and Content Operations TikTok Indonesia, pengguna TikTok Indonesia rata-rata menonton lebih dari 100 video per hari. Sementara itu, tayangan dalam sebulan bisa mencapai lebih dari 30 miliar views. Angka ini cukup fantastis ya.

Namun, berdasarkan riset We Are Social Hootsuite tahun 2019, Instagram masih menjadi media sosial yang rata-rata konsumsi data per harinya paling tinggi. Hal ini didorong oleh durasi penggunaan harian yang tinggi dan basis konten Instagram yang berupa foto dan video. Jadi, kalau ditanya mana yang paling cocok, kembali lagi ke kebutuhan penggunanya.

5. Sebagai digital storyteller, media apa yang paling kamu sukai untuk bercerita?

Saya lebih nyaman bercerita lewat foto. Karena lewat foto, gambar dan tulisan akan saling bersinergi satu sama lain dalam membuat cerita. Saya pernah mencoba platform lain, seperti podcast. Namun, sepertinya kurang nyaman untuk saya bercerita di sana.

6. Pesan apa yang mau kamu sampaikan ke masyarakat lewat cerita-cerita kamu?

Pesan saya lebih ke sosial sih, terutama sejak tahun 2020.  Apa yang saya lakukan lebih spesifik ke “rakyat bantu rakyat”. Contohnya, beberapa waktu lalu saya membuka sesi foto produk gratis untuk para UKM. Jadi, mereka bisa menggunakan foto itu untuk bahan promosi mereka. Contoh lainnya, saya menerapkan free of charge saat diminta menjadi pemateri webinar. Namun, saya melakukan barter dengan panitia supaya mereka melakukan baksos sederhana dengan membagikan nasi bungkus untuk yang membutuhkan.

7. Seperti apa sih konsep berbagi dalam pandangan kamu?

Seorang Gandung Adi akan selalu ingat, “semakin banyak memberi, semakin banyak menerima. Semakin banyak berbagi, semakin kaya akan rezeki.” Buat saya, hal tersebut bukan sekadar kalimat manis belaka. Saya sangat memercayai itu. Saat kita berbagi, apa yang kita berikan tidak akan berkurang. Hal yang dibagikan tentunya bukan melulu tentang uang. Bisa juga perihal pengalaman, pengetahuan, atau apapun.

8. Pesan untuk teman-teman yang saat ini baru mau memulai melakukan perubahan sesuai dengan bidang yang mereka sukai, terutama di dunia digital?

Jangan berhenti belajar. Kalau misalnya baru pertama kali foto virtual lalu hasilnya dirasa jelek, ya tidak apa-apa. Namanya juga baru pertama kali. Sama halnya ketika pertama kali melukis. Saat diberi warna dan kanvas, lukisan tersebut tidak akan serta merta langsung menjadi Monalisa, kan? Ingatlah bahwa hasil bagus itu relatif. Karena yang namanya seni, tiap orang punya ‘taste’-nya sendiri. Jadi, ayo belajar terus.

Keberadaan media sosial saat ini ternyata sepenting itu ya dalam upaya pengembangan karier dan skill. Jadi seperti pesan Gandung Adi, yuk coba cek lagi apa saja yang sudah kita bagikan di media sosial. Jangan sampai kelak jadi bumerang yang justru menjatuhkan saat impian karier hampir tergenggam.

Related Articles

Leave a Comment