Home Women Aulia Meidiska, Menjadi Teman Bercerita Perihal Cinta

Aulia Meidiska, Menjadi Teman Bercerita Perihal Cinta

aulia-meidiska

Ada kalanya hidup terasa begitu penat. Apalagi ketika banyak hal tak berjalan sesuai dengan harapan. Salah satunya adalah perihal hubungan percintaan. Pundak yang semula kuat jadi mendadak berat, seolah isi dunia sedang bertengger di sana. Tak jarang, dada pun ikut sesak karena mulut tertahan untuk tak berteriak. Bercerita mungkin bisa jadi salah satu solusinya. Memang kamu tak lantas menemukan jalan keluar dalam sekejap mata. Setidaknya, bercerita mampu membuat hatimu sedikit merasa lega. Makanya tidak heran kalau makin ke sini, kegiatan bercerita menjadi salah satu terapi yang makin dirasa penting untuk bisa dipenuhi. Itulah yang ditemukan sosok inspiratif minggu ini, Aulia Meidiska.

Bercerita tentang hubungan percintaan terkadang juga tidak mudah. Kita tetap harus pandai memilah pada siapa kita bisa bercerita. Kita harus mempertimbangkan aman atau tidak kisah kita jika diceritakan? Lalu bagaimana dengan respons lawan bicara? Apakah ia akan menenangkan atau justru memberi penghakiman? Berangkat dari hal itu, Aulia Meidiska, seorang penulis lepas di beberapa media, mendirikan SATI. Ia bersama seorang rekan kerjanya, menghadirkan SATI sebagai teman yang bisa menemani kamu yang sedang resah, terutama dalam hal hubungan percintaan. Yuk kenal lebih dekat dengan Aulia Meidiska, wanita lulusan Sastra Inggris ini lengkap dengan perjalanannya membangun SATI.

1. Sejak kapan mulai tertarik dengan dunia tulis-menulis?

Saya percaya bahwa kegemaran saya menulis dipengaruhi oleh kegemaran saya membaca. Sejak kecil, saya suka sekali membaca berbagai macam buku. Setiap kali membaca buku, saya sering bertanya dalam hati, “Bagaimana ya cara penulis mencari ide untuk bisa membuat cerita sebagus ini?”. Pertanyaan ini semakin merasuk ketika saya membaca buku harian papa saya. Papa saya kerap bercerita tentang kesehariannya dengan bahasa yang begitu indah dalam buku harian tersebut. Sesekali, ia juga membubuhkan puisi nan elok di beberapa halamannya. Saya terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Jadi, seorang Aulia Meidiska ini memang sudah mulai menulis buku harian sejak masih SD. Hal itu tetap berlanjut hingga saat ini dan makin mendekatkan saya pada keinginan saya untuk menjadi seorang penulis.

2. Siapa penulis yang sosoknya atau tulisannya kamu kagumi?

Saya suka sekali dengan Paulo Coelho, Jodi Picoult, dan Richard Templer. Paulo Coelho selalu jujur dalam setiap tulisannya. Ia seperti pengamat hidup. Tulisannya mampu menyentuh pikiran dan hati pembacanya lewat permainan kata-kata yang begitu nyata. Sementara itu, Jodi Picoult punya cara menulis yang detail. Ia sering kali membubuhkan riset yang dilakukannya dalam waktu panjang. Jadi saya tidak hanya menikmati cerita fiksinya saja, tetapi juga mendapatkan edukasi yang lebih. Terakhir, Richard Templar. Saya menyukai tulisannya karena bahasa yang digunakan mudah untuk dicerna. Buku-buku nonfiksinya juga banyak membahas tentang hubungan dan kehidupan sehari-hari. Ia mampu bercerita dan menyampaikan maksudnya tanpa terkesan menggurui atau menjadi orang yang lebih tahu.

3. Selain menulis di beberapa media, apa kegiatan kamu saat ini?

Kegiatan saya lainnya saat ini adalah menjadi co-founder dari SATI. SATI sendiri adalah sebuah media yang fokus pada pengembangan diri dengan menggunakan topik-topik hubungan dan percintaan sebagai dasar pendekatan konten. Selain itu, saya juga merupakan penggagas sebuah media baru bernama Stalkation. Media ini adalah sebuah situs yang menjadi jembatan antara figur publik di tanah air, mulai dari musisi, aktor, hingga sineas, dengan para penggemarnya. 

4. Bagaimana awal mulanya terpikir untuk merilis SATI sebagai media belajar tentang cinta dan hubungan?

Saya dan partner, Idelia Risella, bertetangga dari kami masih kecil. Beranjak dewasa, topik yang selalu menjadi perbincangan kami adalah hubungan. Suatu saat, kami berdua sedang sama-sama berada dalam satu titik yang mempertanyakan tentang hubungan. Mengapa hubungan terasa begitu sulit? Apakah memang mencari seseorang yang tepat untuk kita harus sesulit itu? Atau sebenarnya ada yang salah pada kami?

Bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami menyadari bahwa tidak pernah ada hubungan yang mudah. Setiap kali sedang dalam pergulatan batin soal hubungan asmara, kami merasa membutuhkan orang lain untuk sekadar bercerita. Di saat itulah muncul ide untuk membuat sebuah ruang, tempat orang-orang bisa menceritakan kisah hubungan percintaannya secara bebas. Mereka tidak perlu takut ada yang menghakimi karena kami tidak akan menerbitkan identitas. Kami ingin membuat SATI menjadi seorang teman yang bisa menemani pikiran dan perasaan yang resah tentang hubungan. Kami hadir lewat konten-konten berkualitas yang berdasarkan pada riset dan pengalaman.

5. Apa yang jadi kesulitan kamu di awal mendirikan SATI?

Awalnya sungguh sulit membangun dari nol. Belum lagi harus membagi waktu antara pekerjaan utama dan SATI yang belum ada pemasukan sama sekali. Waktu itu, saya dan founder SATI masih sama-sama menggunakan modal pribadi untuk biaya operasional. Mulai dari membangun situs web hingga mengadakan event offline. Di tahun pertama, kami pun berbeda kota. Saya di Bali dan partner di Jakarta. Hubungan jarak jauh bisa dibilang sedikit menghambat pergerakan karena ternyata kami hanya bisa melakukan semua secara online. Namun seiring berjalannya waktu, kami akhirnya bisa memilah mana pekerjaan yang harus dikerjakan sendiri dan mana yang dikerjakan bersama.

6. Mengapa memilih fokus pada topik hubungan percintaan?

Menurut saya, hubungan percintaan adalah topik yang sering dianggap remeh oleh banyak. Padahal kehadirannya sangat signifikan dalam hidup. Ia adalah salah satu aspek yang bisa mengganggu keseharian jika kebutuhannya tak terpenuhi. Contohnya, saat putus hubungan. Jika hubungannya memang tidak serius, mungkin pergolakan setelah putus hubungan tidak akan terlalu terasa. Namun sebaliknya, saat hubungan itu terasa sudah menjadi identitas diri kita, tentu kita tidak akan bisa baik-baik saja saat hubungannya kandas. Tidak mudah untuk melakukan penyesuaian dengan identitas baru setelah putus hubungan. Jadi harapan saya, SATI melalui konten-kontennya bisa jadi media kita untuk belajar. Kita dapat belajar memahami hubungan atau setidaknya memahami bagaimana menganalisis permasalahan di dalam hubungan. Semoga apa yang kami sampaikan melalui SATI bisa jadi langkah awal untuk menemukan solusi.

7. Bagaimana cara bergabung untuk menjadi bagian dari SATI?

SATI adalah sebuah ruang yang inklusif. Semua orang bisa bergabung menjadi bagian dari kami. Semua orang bisa bercerita, bertanya, dan berdiskusi. Bahkan bisa memberikan saran atau ide-ide yang menarik untuk kami ulas. Namun, fokus kami sebenarnya lebih pada mereka yang berada di jenjang dewasa muda hingga dewasa. Mereka yang mulai menyadari bahwa masalah hubungan sangat terkait dengan masalah kesehatan mental. Sehingga mereka bisa mendapatkan inspirasi untuk memahami diri mereka sendiri sebelum memutuskan hal-hal signifikan dalam hubungan. Contohnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk berhubungan dengan atau dari seseorang. 

8. Apa sih definisi cinta versi kamu?

Pertanyaan tentang cinta selalu membuat saya berpikir keras. Karena definisi cinta bagi saya berubah-ubah mengikuti perkembangan diri. Ketika masih remaja, saya mungkin akan bilang cinta adalah tentang dua orang yang saling menyayangi. Namun kini, menurut saya pengertian itu amat luas dan tidak bisa diartikan dengan mudah. Sebab cinta bisa tentang diri sendiri, dua orang, atau banyak orang. Cinta adalah tentang 3K (komitmen, kompromi, dan konsisten). Hal ini juga berlaku untuk cinta saya pada diri sendiri, pasangan, orang tua, bahkan pada pekerjaan. Jika saya cinta pada diri sendiri berarti saya akan berkomitmen untuk membahagiakan diri saya. Saya juga harus bisa berkompromi dengan diri saya ketika masalah datang. Saya tidak selalu berlaku keras dan memaksa diri untuk selalu jadi yang terbaik. Artinya, saya tidak bisa lelah pada diri saya dan harus konsisten memberikan rasa cinta itu meski terkadang sulit. 

9. Sebagai co-founder SATI, apa pesan kamu untuk teman-teman yang saat ini sedang memperjuangkan hubungan percintaannya?

Tidak ada hubungan yang mudah. Bagaimana pun, kita berasal dari lingkungan, latar belakang, dan dogma yang berbeda. Jadi, untuk bisa berjalan bersama seseorang yang tentu saja berasal dari latar belakang yang berbeda, tidak akan selalu mudah. Terkadang kita selalu fokus pada kesuksesan tanpa memikirkan kegagalan. Padahal dalam sebuah hubungan tidak melulu soal sukses, tapi juga soal gagal. Justru dari kegagalan itu, kita bisa belajar bagaimana supaya bisa lebih memahaminya. Namun ketika hubungan sudah terasa amat sulit hingga hampir setiap hari mengganggu keseharian, di situlah harusnya kita mulai berdialog dengan diri sendiri dan bertanya, “Apakah ia orang yang pantas dan layak mendapatkan investasi waktu, perhatian, tenaga, dan rasa sayang saya?”. Coba jujur dengan diri sendiri. Lalu baru memutuskan langkah apa yang harus dilakukan saat kepala dan hati sudah tenang.

Setiap individu terlahir dengan karakter yang berbeda. Itulah alasan kenapa menyatukan dua kepala menjadi perkara yang tidak selalu mudah. Namun, hal yang mungkin kita sebut sebagai gagal bisa jadi berbalik menjadi guru kita di kemudian hari. Oleh karena itu, seperti pesan dari Aulia Meidiska bahwa penting untuk tetap berkepala dingin dan tidak membuat keputusan penting di kala sedang marah ya.

Related Articles

Leave a Comment