Home Women Jayaning Hartami, Cinta Literasi Sejak Dini

Jayaning Hartami, Cinta Literasi Sejak Dini

jayaning-hartami

Kemampuan dalam berliterasi masih menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus kita benahi. Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2019, dari 34 provinsi di Indonesia hanya ada 9 provinsi yang masuk dalam kategori sedang, 24 provinsi di kategori rendah, dan 1 provinsi berkategori sangat rendah. Jika diakumulasi, maka rata-rata indeks Aktivitas Literasi Membaca Indonesia berada di angka 37,32%. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah. Hal inilah yang jadi perhatian sosok inspiratif minggu ini, Jayaning Hartami.

Wanita lulusan S2 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini mendedikasikan dirinya sebagai pegiat literasi. Berangkat dari rutinitas membacakan buku untuk kedua anaknya di rumah, Jayaning Hartami atau yang akrab disapa Tami ini pun mulai aktif membagikan kegiatan literasinya di media sosial. Harapannya tentu ingin agar para orang tua lain juga bisa merasakan keajaiban dari literasi yang bisa dimulai sejak dini. Wah, keren banget ya! Yuk, kenal lebih dekat dengan sosok Tami dalam People of the Week minggu ini.

1. Menurut kamu, apa definisi dan pentingnya literasi?

Jayaning Hartami
dokumen pribadi

Literasi dalam pandangan seorang Jayaning Hartami adalah hal yang mendasar yang perlu dimiliki oleh seseorang. Karena cakupan literasi bukan hanya bicara tentang belajar mengeja, tetapi lebih dari itu. Literasi mencakup bagaimana cara kita menerima informasi, memilah, dan mengolah informasi tersebut. Lalu kemudian bisa menganalisis, menyimpulkan, bahkan mengkritisi. Literasi pada dasarnya bukanlah sebuah bakat, sehingga tidak ada dikotomi anak yang terlahir suka membaca ‘dari sananya’ dan anak yang memang tidak suka membaca ‘dari sananya’. Literasi merupakan skill (keahlian) yang dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu melalui latihan dan pembiasaan yang dibentuk dari rumah.

2. Sejak kapan mulai tertarik dengan dunia literasi?

Kebetulan sejak kecil saya dibesarkan oleh orang tua yang ‘royal’ terhadap buku. Jadi, bisa dikatakan membaca sudah jadi bagian dari kehidupan saya sejak kecil. Jadi ketika memiliki keluarga sendiri, rasanya saya hanya meneruskan saja warisan budaya membaca dari yang orang tua berikan ketika saya masih kecil dulu.

3. Hal apa yang pada akhirnya membuat kamu memutuskan untuk menjadi pegiat literasi?

Sebagai Jayaning Hartami, saya pribadi merasakan kenikmatan yang begitu besar ketika membacakan buku untuk anak-anak saya. Saya pun menyaksikan sendiri bagaimana besarnya dampak positif yang diberikan aktivitas literasi untuk mereka. Lalu suatu hari anak sulung saya bertanya, “Ami, gimana caranya supaya semua anak bisa suka baca kayak Kakak?” Mungkin itu yang pada akhirnya membuat saya jadi berpikir, “Iya ya, kalau membacakan buku buat anak sebegini nikmatnya, kenapa tidak saya bagikan kenikmatan ini pada jutaan orang tua di luar sana?”.

4. Apa yang menjadi tujuan awal kamu sebagai pegiat literasi?

Saya yakin pasti mayoritas orang tua sudah tahu manfaat membacakan buku untuk anak-anaknya sejak dini. Namun, tidak semua percaya bahwa literasi punya dampak penting  untuk anak-anak mereka. Oleh karena itu, sharing yang biasa saya lakukan di media sosial  lebih banyak membahas keseharian anak-anak di rumah bersama buku-buku mereka. Saya ingin orang tua lain bisa mendapat idenya, bahwa aktivitas literasi memiliki banyak keajaiban yang akan sangat bermanfaat untuk anak-anak kita.

5. Bagaimana kamu melihat tingkat literasi negeri ini saat ini?

Seorang Jayaning Hartami percaya bahwa sesungguhnya anak-anak Indonesia punya minat baca yang tinggi. Namun, tidak semua dari mereka memiliki akses yang cukup baik untuk bertemu dengan bacaan bacaan bermutu dan pengalaman membaca yang menyenangkan. Hal itulah yang membuat aktivitas membaca buku fisik lebih kurang diminati dibandingkan membaca cuitan di media sosial. Adapun pada anak-anak, aktivitas literasi seringkali berkaitan erat dengan target calistung yang harus dikejar sebelum masuk Sekolah Dasar (SD) sehingga unsur menyenangkan pun hilang dari proses membaca. 

6. Langkah-langkah apa yang sudah kamu lakukan untuk mencoba meningkatkan awareness orang lain terhadap dunia literasi?

Dengan berbagi pengalaman di media sosial dan mengisi di berbagai sesi sharing, baik melalui WhatsApp, Zoom, maupun Telegram.

7. Kalau dari diri kita sendiri, apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kemampuan kita dalam berliterasi dengan baik?

Dengan meluangkan waktu untuk membaca, itu permulaan yang penting untuk dilakukan. Tidak bisa dipungkiri kalau era media sosial pelan-pelan menggerus daya tahan kita untuk membaca sebuah tulisan yang panjang dan tanpa ilustrasi. Jadi, mau tidak mau kita memerlukan kerja mental yang lebih berat. Namun, justru karena itulah harusnya aktivitas membaca buku jadi makin urgent untuk mulai dibiasakan. 

8. Hal-hal apa saja yang jadi tantangan kamu selama menjadi seorang pegiat literasi?

Kalau dari pengalaman mengisi berbagai kelas, tantangan utama yang sering kali muncul dari pertanyaan sesama orang tua adalah terkait penggunaan gawai. Di zaman digital seperti sekarang, tentu kita tidak bisa mengisolasi anak dari kemajuan teknologi. Apalagi di masa pandemi, saat ruang bermain anak terbatas, sulit untuk keluar rumah, biasanya screen time menjadi lebih melonjak dibanding sebelumnya. 

Memberikan gawai pada anak itu hal yang effortless, nyaris tanpa perlu pendampingan dari orang tua. Cukup dipilihkan kontennya, lalu sodorkan pada anak untuk menikmatinya. Berbeda jauh dengan buku yang membutuhkan komitmen waktu, tenaga, dan kesungguhan dari orang tua untuk duduk membacakannya pada anak anak mereka.

9. Lantas, bagaimana kamu menyikapinya?

Untuk menyikapinya tentu saya tidak bisa langsung mengambil posisi kontra. Sebab itu akan membuat ide literasi semakin terasa berat dan sulit dilakukan oleh orang tua. Biasanya yang saya lakukan adalah dengan memberikan analogi soal makanan sehat vs camilan. 

Camilan itu enak dan menyenangkan buat anak, tetapi tentu kita tidak akan memberikan terus-menerus sebagai menu utama dalam kesehariannya. Menu utama anak akan tetap diberikan makanan sehat. Hal ini serupa dengan gawai dan buku. Gawai ini ibarat camilan, sedangkan buku adalah menu utama. Memberikan screen time tentu tidak apa-apa. Namun, sama halnya seperti camilan, orang tua perlu menentukan batasan penggunaannya. 

10. Hal apa yang jadi penyemangat kamu untuk meneruskan perjalanan sebagai pegiat literasi?

Karena saya sudah merasakan sendiri manfaatnya pada anak-anak. Anak-anak terlihat begitu antusias dalam aktivitas literasi sehari-harinya di rumah. Dari keseharian mereka dalam berliterasi ini, akhirnya bisa ada banyak cerita yang bisa saya bagikan ke orang tua lain di luar sana. 

11. Jika ditanya perihal impian, apa harapan atau keinginan kamu terkait perkembangan literasi di negeri ini?

Mengutip pernyataan anak sulung saya, saya ingin melihat semua anak Indonesia suka membaca. Namun lebih awal lagi dari itu, seorang Jayaning Hartami bermimpi kalau semua orang tua di Indonesia bisa memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan untuk anak-anak mereka. 

12. Apa tips atau motivasi dari kamu untuk teman-teman yang mau mulai menumbuhkan kebiasaan baik dalam berliterasi?

Menurut saya, langkah terpenting adalah memulai dengan apa yang kita bisa. Jangan sampai berpikir bahwa membacakan buku untuk anak harus dimulai dari punya perpustakaan di rumah dulu, atau membeli buku yang banyak dulu, atau cuma bisa dilakukan lewat buku-buku tertentu. Sebab sebenarnya hal terpenting bagi anak adalah interaksi yang terjadi ketika buku itu dibacakan. Saat orang tua betul-betul meluangkan waktu dan perhatian untuk menemani mereka membaca. 

Masih rendahnya tingkat literasi dalam negeri mau tidak mau jadi pekerjaan rumah kita bersama. Nyatanya, menghadirkan kecintaan akan literasi bisa dimulai dari diri kita sendiri. Mulailah dengan apa yang ada, salah satunya dengan merutinkan kebiasaan membaca. Yuk, bisa yuk!

Related Articles

Leave a Comment